Lisztomania (1975)

(*)

pos_lisztomaniaLisztomania
| General | art house | musical | no subtitle | █ for phallus and sheer insanity |
Director:     Ken Russell
Writer:        Ken Russell
Release:      1975
Duration:   1:41:15 (25.000 fps)
Language:   English
Country:     UK

Lisztomania (istilah ini awalnya dikemukakan oleh Heinrich Heine, tokoh literatur Jerman, untuk merujuk kepada ‘kegilaan’ audiens–utamanya kaum hawa, pada konser-konser Franz Liszt, seorang bintang pop-klasik) adalah film art house tentang Liszt (Roger Daltrey): hingar-bingar panggung, kehidupan pribadi, kejeniusan, juga ketakutan-ketakutannya. Diawali dengan hal-hal yang wajar (atau agak wajar), cerita semakin lama semakin ramai dengan hiruk-pikuk ‘kegilaan’.

Untuk sebagian orang, beberapa bagian film ini mungkin akan terasa ofensif.

Lisztomania (coined by Heinrich Heine, a German literary figure, to depict audience insanity toward Franz Liszt’s deft fingers on the piano) is a story about Liszt (Roger Daltrey): his on/off stage life, his brilliance, and his fears. Starting with some pretty common (in a way) things, the movie then keeps shifting—from one madness to another.

This movie is not for everybody. Definitely.

+++
Bahasa Kegilaan para Jenius (heavy spoilers!!)

Poin pertama: musik adalah bahasa universal. Ia bisa merupakan ungkapan (atau memberikan atau membangkitkan) ketenangan, kreativitas, atau bahkan kegilaan. Poin kedua: bagaimana jika kebanyakan orang justru sudah terbiasa dengan hal-hal yang tidak terlalu waras? Bagaimana mengungkapkan sebuah ‘kegilaan’ kepada mereka? Menggunakan ‘bahasa normal’, atau justru ungkapan yang [lebih] ekstrim? Tampaknya kedua hal ini yang secara simultan ingin dilakukan Russell dengan Lisztomania. Dan khas Russell, sepertinya ia tidak terlalu peduli jika kebanyakan orang (yang notabene ingin diajaknya bicara) bakal kesulitan (atau bahkan merasa terganggu) dalam mengunyah ungkapan-ungkapannya.

Perjumpaan Liszt dengan Richard Wagner (Paul Nicholas)–musisi teman Liszt dalam dunia nyata, keluhan sang isteri tentang kebiasaannya bermain wanita, hingga permintaan anak gadisnya Cosima (Veronica Quilligan) agar sang ayah menggubah sesuatu yang romantis bagi sang ibu untuk memperbaiki hubungan mereka, semuanya masih terasa waras.

Tetapi kemudian Liszt menjawab permintaan Cosima (yang entah bagaimana diam-diam jago santet itu) dengan menyatakan ia bersedia menjual jiwanya kepada iblis untuk lagu seperti itu, dan Cosima berjanji akan berdoa (kepada Tuhan) setiap hari supaya harapan sang ayah bertemu dengan iblis suatu saat akan benar-benar terkabul (agar bisa mencipta lagu bagi bunda). Lalu Liszt kabur dari rumah untuk menikah dengan putri Rusia (Sara Kestelman); Wagner sudah menjadi vampir dan capt_lisztomaniamenghisap darah Liszt agar membuatnya mampu menggubah lagu yang akan menghadirkan neraka di muka bumi; permo­honan cerai putri Rusia (dari perkawinan sebelumnya) tak direstui Paus (Ringo Starr), membuat rencana Liszt menikahinya gagal—sebagai balas dendam, sang putri Rusia berencana membuat ensiklopedia 24 jilid yang akan membongkar kebobrokan kaum agamawan (The Interior Course of the Exterior Wickedness..), sedangkan Liszt akan menjadi pendeta; Cosima (anak Liszt—yang sudah bersuamikan mantan pegawai Liszt dan beranak) menikahi Wagner (yang sudah jadi vampir)–dengan pembantu rumah tangga sang mantan suaminya sendiri (yang bukan vampir); Paus meminta Liszt pergi membinasakan iblis, yang sudah mengejawantah dalam diri Wagner.. Dan ini belum semua—karena memang masih, masih banyak lagi!

Jelas bahwa film ini sama sekali tidak dimaksudkan sebagai sebuah biografi yang realistis. Meskipun demikian, para pecinta musik art/classic/progressive-rock (dan apalagi jika sekaligus juga pecinta film-film art house), rasanya harus berterima kasih kepada sutradara (Ken Russell) dan para komposer (Franz Liszt, Richard Wagner dan Rick Wakeman) atas sebuah film brilian yang sudah memilih untuk bertutur [tentang hal-hal ‘lumrah’] dengan cara yang gila ini—baik musik, lirik, plot maupun visual.

*****

────────

Note:

  • Meski dilakukan sambil lalu atau dengan olok-olok, bisa dibilang semua dialog musik dalam film ini mempunyai muatan yang serius—misalnya tentang musik elektronik (Liszt-Wagner), atau keabadian sebuah gubahan yang baik (Liszt dan para wanita dalam hidupnya, saat mereka sedang ada di surga).
  • Bagi yang menyukai musik/liriknya, bisa mencari album Rick Wakeman dengan judul yang sama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s