Okuribito (2008)

(*)

pos_okuribitoOkuribito (Departures)
| General | (fading) culture | nokanshi |
Director:     Yōjirō Takita
Writer:        Kundô Koyama
Release:      2008
Duration:   2:10:22 (23.976 fps)
Language:   Japanese
Country:     Japan

Sesaat setelah orkestra tempatnya bernaung bubar, Daigo Kobayashi (Masahiro Motoki)—pemain celo yang tekun tetapi sepertinya agak medioker itu, memutuskan kembali ke kampung halaman bersama isterinya untuk memulai segala sesuatunya dari awal. Memenuhi panggilan iklan lowongan kerja dari sebuah ‘biro pemberangkatan’, ia mendapati itu tak lebih daripada pekerjaan mendandani mayat—sebelum akhirnya dibakar (dikremasi).

Meski secara sosial profesinya tidak terlalu dihargai, kesungguhan Daigo dalam menjalani segala apa yang dilakukannya lambat-laun membuat orang mau tak mau menaruh hormat—termasuk mereka yang dulu mencela pilihan pekerjaannya.

When the orchestra he plays disbands, the devoted yet somewhat mediocre cellist Daigo Kobayashi (Masahiro Motoki) decides to get back to his hometown with his wife to start things over. Responding to an ad about some ‘departure agency’, he finds it being none other than decorating dead bodies (that is, a farewell)—before being sent for cremation.

Daigo’s wholeheartedness on what he is doing finally gains him respect—from others who first despise his job, as well as from himself.

+++
Cinta sang Petugas Pemberangkatan (spoilers!!)

“Orang yang hanya mempunyai satu pilihan tak bisa dikalahkan”. Kata-kata itu mungkin tepat untuk menggambarkan situasi yang dihadapi Daigo. Meski awalnya malu (tak mau berterus terang kepada istrinya sendiri tentang pekerjaan barunya), toh ia maju terus. Bahkan saat sang istri meninggalkannya (setelah akhirnya mengetahui pekerjaan sang suami), Daigo bergeming. Tanggung jawabnya kepada pekerjaan tak tergoyahkan.

capt_okuribitoSeiring waktu, rasa tanggung jawab itu berubah menjadi seperti sebuah ‘panggilan’. Daigo mulai mencintai pekerjaannya. Ia mendapati bahwa profesinya yang tidak prestisius itu membuatnya lebih bisa menghargai dirinya sendiri, ataupun orang lain—termasuk mereka yang tidak begitu menghargainya. Apa yang dilakukannya membuat Daigo merasa punya arti.

‘Pergaulannya’ dengan orang mati, termasuk dengan keluarga yang ditinggalkan—ketulusan rasa terima kasih mereka, serta sikap sepenuh hatinya dalam memaknai ritualnya sebagai ‘petugas pemberangkatan’, pada akhirnya juga membuat Daigo lebih bijak dalam mengenali keindahan serta dalam menjalani hidup—termasuk berdamai dengan masa lalunya.

*****

────────

PS:
Nokanshi adalah lebih daripada sekadar rekayasa kosmetik mendandani mayat agar tampak indah dilihat. Juga bukan sekadar seremoni. Ini adalah sebuah ritual penuh makna yang di Jepang sendiri sepertinya sudah banyak terkikis oleh ‘budaya’ modern, ketidaksabaran.

Advertisements

3 thoughts on “Okuribito (2008)

  1. Sepertinya nokanshi itu profesi yang baru di Jepang sendiri mas, dan baru dilirik setelah film ini mendapat Oscar. Di kamus Jepang sendiri tidak ada kata nokanshi secara utuh, adanya nokan yang berarti peti, dan shi berarti sensei, guru atau master. Baru setelah film ini mendapat Oscar, di kamus online ditemukan kata nokanshi. cmiiw ^^

    • Terima kasih, Subebeck. Surprised juga ada yang komen, soalnya blog ini masih ‘rahasia’ alias belum siar-siar. Isi masih terlalu sedikit, malu. 🙂
      Meski oleh orang asing ritual ini dipandang dengan penuh respek, di Jepang sendiri konon dianggap ‘kurang kerjaan’ atau bahkan ‘hina’ (kurang lebih serupa dengan nasib budaya nusantara—seperti gamelan dan wayang orang, bagi kita). Istilah nokanshi (orang yang melakukan nokan) tak begitu dikenal di Jepang mungkin mirip dengan orang Jawa tak paham kejawen atau orang Batak tapi belum pernah mendengar tentang dalihan na tolu.
      Tentang kamus online.. yah, jika kita memutuskan untuk meng-upload sebuah kata kemarin siang, bukan berarti [jauh] sebelum itu kata tersebut [harus] tidak ada, bukan?
      Jika memang tertarik lebih jauh, mungkin bisa mencoba artikel Makoto Fujimura berikut: http://www.curatormagazine.com/makotofujimura/departures-the-art-of-transformation/. Semoga membantu. ^^

  2. And just as a confirmation that this blog is welcoming comments in English as well, I’d like to say that one of the [many] reasons that makes this movie indispensable is what it blatantly (yet smoothly) says: the ever-growing presence of the diminishing values in our daily life—the (so-called) modern people.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s