Quadrophenia (1979)

(*)

pos_quadropheniaQuadrophenia
| General | generation gap | British youths | mods-rockers | folk devils |
Director:     Franc Roddam
Writer:        Dave Humphries, Franc Roddam, Martin Stellman, Pete Townshend
Release:      1979
Duration:   1:54:32 (29.970 fps)
Language:   English
Country:     UK

Mengambil nama dari album/konser The Who tahun 1973 dengan judul sama, film ini berkisah tentang sebuah era—dengan setting Inggris pertengahan tahun 1960-an, melalui kacamata Jimmy (Phil Daniels).

Jimmy adalah seorang mod (modernist—suatu sub-kultur yang sempat beberapa kali populer di Inggris yang identik dengan penampilan modis, mengkonsumsi musik tertentu, serta skuter). Dan seperti banyak dari mereka pula, baik di rumah atau secara sosial, ia bermasalah. Tetapi cepat atau lambat, semua orang pada akhirnya (mau tak mau) harus belajar, meski menerima kenyataan tidak selalu merupakan pekerjaan yang mudah.

Film ini diwarnai pertikaian antara para mods dengan seteru mereka rockers pada tahun 1964, yang membuat keduanya diberi cap folk devils.

Taking the name from The Who’s 1973n consert/album, this movie tells about an era (England 1960’s), through the eyes of Jimmy (Phil Daniels).

Being a mod, Jimmy always seeks solutions for his domestic or societal problems in the community. But then again, it might just be that answers are not what he is looking for, maybe all he wants is just a getaway. Everybody learns—sooner or later, in one way or another. And some people just have hard time swallowing.

This movie also depicts the fight between mods and their rival, rockers, in 1964. Earning them the label folk devils.

+++
Kegalauan sebuah generasi (spoilers!!)

Continue reading

Advertisements

A Time to Kill (1996)

(**)

pos_atimetokillA Time to Kill
| General | racism | for racism |
Director:     Joel Schumacher
Writer:        Akiva Goldsman
Release:      1996
Duration:   2:23:30 (25.000 fps)
Language:  English
Country:    USA

Seorang kulit hitam, Carl Lee Hailey (Samuel L. Jackson), menghadapi tuntutan hukuman mati karena membunuh dua orang warga kulit putih, yang telah memperkosa dan kemudian membunuh anaknya.

Dengan hakim dan tim juri yang semuanya kulit putih dan tampak ingin segera dirinya dieksekusi, serta dengan tokoh-tokoh dari kalangan kulit hitam sendiri yang tak lebih dari orang-orang korup yang justru berusaha menggunakan kasusnya sebagai sarana mencari keuntungan pribadi, nasib Carl Lee Hailey benar-benar ditentukan oleh tim pembelanya yang terdiri dari: seorang pengacara yang sedang tidak begitu percaya diri (Matthew McConaughey), rekan kerjanya yang sulit konsentrasi jika ada wanita menarik, seorang asisten cantik yang belum berpengalaman dan masih kolokan, serta seorang mentor yang lebih sering mabuk—yang semuanya kulit putih.

A black man, Carl Lee Hailey (Samuel L. Jackson), is facing a death sentence for killing two [white] people, who have raped and murdered his daughter.

With the judge and jury (all white) seem having an itch to have him executed and the (so-called) prominent figures among the black people seem eager to use his case to furnish their own interests, Hailey’s last stand seems to be in the hands of a very limited people: a lawyer who is having a confidence problems (Matthew McConaughey), his coworker who gets distracted easily by women, an inexperienced-pretty-young daddy’s-girl assistant, and a drunk mentor—all white.

+++
Keadilan, seperti kebenaran, ada di dalam pikiran

Continue reading

Opera Jawa (2006)

(**)

pos_ojOpera Jawa (Requiem from Java)
| General | art house | culture | musical | ethnic dance
Director:     Garin Nugroho
Writers:      Armantono, Garin Nugroho
Release:      2006 (Yogya)
Duration:   1:55:27 (25.000 fps)
Language:  Indonesian
Country:    Indonesia / Austria

Setyo (Martinus Miroto) dan Siti (Artika Sari Devi) adalah pasangan suami-istri muda pengrajin/pengusaha gerabah di ambang bangkrut dengan problem rumah-tangga yang klasik: komunikasi. Sikap penuh tanggung jawab Setyo sebagai pencari nafkah justru sering membuat Siti merasa terabaikan. Singkatnya, Siti kesepian. Alienasi antar keduanya diperparah dengan hadirnya Ludiro (Eko Supriyanto), sosok manja dari keluarga saudagar yang segala keinginannya biasa terturuti.

Disajikan dalam paduan bahasa gerak yang eksotis dan tembang Jawa serta tebaran seni instalasi kontemporer di sana-sini, film musikal dengan warna kultural yang kental ini mengisahkan upaya Setyo dan Ludiro dalam memperebutkan cinta Siti.

Karya art house dengan visual yang colorful ini diperkuat oleh karakterisasi yang mengena dari para pendukung utamanya:

  • Sukesi (Retno Maruti), ibu Ludiro
  • Sura ( I Nyoman Sura), orang kepercayaan Setyo untuk urusan ‘dalam negeri’
  • Anom (Jecko Siompo Pui), sosok kepercayaan Setyo untuk urusan ‘luar negeri’, dan
  • figur penyampai kisah yang anonim (Slamet Gundono)

Setyo (Martinus Miroto) and Siti (Artika Sari Dewi) are young married couple with a classic domestic issue: communication. With their earthenware business comes close to going bankrupt, Setyo’s ever deter-
mined efforts to make ends meet often make Siti feels lonely. Their alienation to each other is worsened by the presence of Ludiro (Eko Supriyanto), a spoiled char-
acter from the local wealthy family who is used to having all his wishes granted.

In the spirit of the (Javanese) Ramayana epic, the story tells about what it takes to win Siti’s heart.
(This storyline has been sent to imdb.com under an alias)

Supporting artists:

– Sukesi (Retno Maruti), Ludior’s mother
– Sura (I Nyoman Sura), Setyo’s man
– Anom (Jecko Siompo Pui), Setyo’s man
– the storyteller (Slamet Gundono)

*****

+++