Lisztomania (1975)

(*)

pos_lisztomaniaLisztomania
| General | art house | musical | no subtitle | █ for phallus and sheer insanity |
Director:     Ken Russell
Writer:        Ken Russell
Release:      1975
Duration:   1:41:15 (25.000 fps)
Language:   English
Country:     UK

Lisztomania (istilah ini awalnya dikemukakan oleh Heinrich Heine, tokoh literatur Jerman, untuk merujuk kepada ‘kegilaan’ audiens–utamanya kaum hawa, pada konser-konser Franz Liszt, seorang bintang pop-klasik) adalah film art house tentang Liszt (Roger Daltrey): hingar-bingar panggung, kehidupan pribadi, kejeniusan, juga ketakutan-ketakutannya. Diawali dengan hal-hal yang wajar (atau agak wajar), cerita semakin lama semakin ramai dengan hiruk-pikuk ‘kegilaan’.

Untuk sebagian orang, beberapa bagian film ini mungkin akan terasa ofensif.

Lisztomania (coined by Heinrich Heine, a German literary figure, to depict audience insanity toward Franz Liszt’s deft fingers on the piano) is a story about Liszt (Roger Daltrey): his on/off stage life, his brilliance, and his fears. Starting with some pretty common (in a way) things, the movie then keeps shifting—from one madness to another.

This movie is not for everybody. Definitely.

+++
Bahasa Kegilaan para Jenius (heavy spoilers!!)

Continue reading

Advertisements

Opera Jawa (2006)

(**)

pos_ojOpera Jawa (Requiem from Java)
| General | art house | culture | musical | ethnic dance
Director:     Garin Nugroho
Writers:      Armantono, Garin Nugroho
Release:      2006 (Yogya)
Duration:   1:55:27 (25.000 fps)
Language:  Indonesian
Country:    Indonesia / Austria

Setyo (Martinus Miroto) dan Siti (Artika Sari Devi) adalah pasangan suami-istri muda pengrajin/pengusaha gerabah di ambang bangkrut dengan problem rumah-tangga yang klasik: komunikasi. Sikap penuh tanggung jawab Setyo sebagai pencari nafkah justru sering membuat Siti merasa terabaikan. Singkatnya, Siti kesepian. Alienasi antar keduanya diperparah dengan hadirnya Ludiro (Eko Supriyanto), sosok manja dari keluarga saudagar yang segala keinginannya biasa terturuti.

Disajikan dalam paduan bahasa gerak yang eksotis dan tembang Jawa serta tebaran seni instalasi kontemporer di sana-sini, film musikal dengan warna kultural yang kental ini mengisahkan upaya Setyo dan Ludiro dalam memperebutkan cinta Siti.

Karya art house dengan visual yang colorful ini diperkuat oleh karakterisasi yang mengena dari para pendukung utamanya:

  • Sukesi (Retno Maruti), ibu Ludiro
  • Sura ( I Nyoman Sura), orang kepercayaan Setyo untuk urusan ‘dalam negeri’
  • Anom (Jecko Siompo Pui), sosok kepercayaan Setyo untuk urusan ‘luar negeri’, dan
  • figur penyampai kisah yang anonim (Slamet Gundono)

Setyo (Martinus Miroto) and Siti (Artika Sari Dewi) are young married couple with a classic domestic issue: communication. With their earthenware business comes close to going bankrupt, Setyo’s ever deter-
mined efforts to make ends meet often make Siti feels lonely. Their alienation to each other is worsened by the presence of Ludiro (Eko Supriyanto), a spoiled char-
acter from the local wealthy family who is used to having all his wishes granted.

In the spirit of the (Javanese) Ramayana epic, the story tells about what it takes to win Siti’s heart.
(This storyline has been sent to imdb.com under an alias)

Supporting artists:

– Sukesi (Retno Maruti), Ludior’s mother
– Sura (I Nyoman Sura), Setyo’s man
– Anom (Jecko Siompo Pui), Setyo’s man
– the storyteller (Slamet Gundono)

*****

+++